Jakarta dalam syair

Berita Tuesday, 03/Apr/2012 09:42 1 Komentar - 20 hits
Sebagai pusat pemerintahan dengan sejuta permasalahannya, Jakarta telah memberikan insiprasi bagi para musisi untuk mencipta lagu. Di era 60-an, band legendaris Koes Bersaudara yang akhirnya berubah nama menjadi Koes Plus, beranggotakan Tony Koeswoyo (organ), Yon (gitar), Murry (drum), dan Yok (bas) mengaku banyak mendapatkan ide membuat lagu dari kejadian yang dialaminya di Jakarta. Meski semua personel berasal dari Tuban - Jawa Timur, Kegiatan “jalan-jalan” mereka dari Jalan H. Nawi - Jakarta Selatan berhasil melahirkan ratusan tembang yang menjadi hits dimasanya, misalkan Kembali ke Jakarta, Muda-Mudi, Bis Sekolah, dan Bujangan.

Salah satu kunci kesuksesan Band yang mengaku diwarnai Everly Brothers, Kalin Twin, The Beatless dan The Bee Gees, adalah kepiawaiannya meracik komposisi musik yang enak didengar (easy listening) dan syairnya yang menyentuh kehidupan banyak orang. Misalkan kepeduliannya pada pergaulan anak muda Jakarta yang kian bebas, koes plus menuliskan syair “Muda-mudi” ; Muda mudi zaman sekarang/Pergaulan, bebas nian/Tiada lagi orang yang melarang/Tapi sayang, banyak yang salah jalan. Juga kepeduliannya pada

Syairnya yang ringan, lugas dan mudah diingat membuat band ini banyak digandrungi muda-mudi saat itu. Apalagi penampilan mereka saat itu terbilang trendy. Dengan style rambut gondrong dan celana model cutbrai mereka mampu menghipnotis penggemarnya, terutama yang wanita. Menurut keterangan, dalam sebuah konser di Jakarta, puluhan wanita pingsan karena histeris saat menyaksikan kelompok ini menyanyi. Tidak hanya itu, syair lagu mereka yang variatif, mulai dari kisah percintaan, kesedihan, hingga pujian elok dan permainya tanah air membuat banyak orang suka, termasuk kalangan tua. Saat Band ini dipenjarakan oleh Soekarno tanggal 29 Juni 1965 di hotel Prodeo di kawasan Glodok selama tiga bulan, pun akhirnya melahirkan karya monumental yang dikemas dalam album Nusantara I, II, III dan seterusnya (KOMPAS, 30/05/2004).

Bicara tentang Jakarta, nama Benyamin S pasti tidak bisa dipisahkan. Hampir semua lagu hasil ciptaannya mencirikan pola budaya Betawi, baik syair maupun logatnya. Kreativitas anak kelahiran Kemayoran 5 Maret 1939 ini menjadikan dirinya icon musisi dan artis aseli asal betawi yang sukses. Selain kepiawaiannya membuat lagu, Benyamin juga banyak membintangi film dan sinetron di era 70-an hingga 90-an. Cita rasa Jakarta dihampir semua lagunya terekam begitu kental, contohnya tembang Ondel-ondel, Kompor Meleduk, Disini Aje/Timbel, Sang Bango, Gue Nggak Ngerti dan masih banyak lagi.

Spontanitas dan blak-blakan, mungkin menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan karakter Benyamin. Dan sifat ini pula yang menjadi penggerak utama terciptanya lagu. Misalkan, saat peristiwa Banjir besar yang melanda Jakarta era 70-an melahirkan lagu kocak “Kompor Meleduk” ; Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk/ Rumah ane kebakaran, gara-gara kompor meleduk.

Sejumlah penyanyi lainnya yang melantunkan syair bertema Jakarta era 70-an, diantaranya adalah Panbers (Djakarta City Sound), De Sonic/ A. Rijanto (Kr Kemayoran), Broery Pesulima (Ibu Kota), Bimbo (Diatas Jembatan Semanggi), The Favorites (Kr Sunda Kelapa), Ivo Nila Kreshna (Bandar Djakarta, Gado-gado Jakarta) hingga penyanyi anak-anak Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo (Djakarta Tempo Dulu).

Bila diperhatikan, sejak jamannya, Koes Ploes, Benyamin S dan setelahnya untaian syair yang bertema Jakarta meliputi cerita kebudayaan (betawi), keramaian kota, keindahan dan kisah percintaan bersetting lokasi di Jakarta. Misalkan penyanyi Ivo Nilakreshna, bersama iringan keroncong GEMS dalam mendendangkan “Gado-gado Betawi” ; Gado-gadonya Bung dari Jakarta, sangat digemari rakyat jelata/ Satu bungkusnya Bung, lima rupiah /Bang Amat pulang Bung sudah sedia/Kalo mpok Minah malas ke dapur, beli gado-gado dari Jakarta…

Artis cilik Adi Bing Slamet dalam beberapa lagunya juga banyak berkisah tentang Jakarta. Misalkan cerita tentang Jakarta tempo dulu dalam perspektif yang lugu; Sunda Kelapa nama kota tempo dulu/Pasar ikan pelabuhan saat itu/ Hari berganti hari, tahun berganti tahun, sekarang Sunda Kelapa jadi kota Jakarta/ Jakarta tempo dulu sangat lucu/ Banyak trem mondar-mandir kayak taksi/Banyak orang bilang Jakarta tempo dulu, duit segobang bisa jajan seminggu..


Era 80-an
Barulah awal 80-an terjadi perubahaan drastis dari tema syair lagu yang dinyanyikan. Dipelopori oleh penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal Iwan Fals yang berani “berteriak” lantang tentang kontrasnya pembangunan di Jakarta. Syair-syair tentang kemiskinan, pengangguran, dan kritik social dipastikan berasal dari gambaran realita kehidupan Jakarta. Simak saja syair lagu Sarjana Muda, Guru Oemar Bakri (1981), Sore Tugu Pancoran, Ujung Aspal Pondok Gede (1981), Kontrasmu Bisu, Berandal Malam di Bangku Terminal (1986).

Tidak hanya itu, Iwan Fals juga berani menyoroti tingkah-polahnya para pejabat yang tidak peduli dengan nasib rakyat lewat dendang lagu Surat Buat Wakil Rakyat (1987). Tentu saja lagu ini ditujukan untuk anggota DPR yang sedang bersidang di Senayan Jakarta. Syairnya yang kritis membuat kuping panas para anggota DPR; Untukmu yang yang duduk dikursi sana/untukmu yang biasa bersafari, disanadi gedung DPR/ Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat/ Apalagi sanak famili…

Kepedulian Iwan Fals tentang riuhnya pembangunan gedung-gedung di Jakarta diabadikan dalam lagu Berkacalah Jakarta (1989); Langkahmu cepat seperti terburu, berlomba dengan waktu/ Apa yang kau cari belumkah kau dapati,Diangkuh gedung-gedung tinggi/ Riuh pesta pora sahabat sejati/ yang hampir selalu ada/ Isyaratkan enyalah pribadi/Lari kota Jakarta, lupa kaki yang luka/Mengejek langkah kura-kura/Ingin sesuatu tak ingat bebanmu/Atau itu ulahmu kota..

Sifat kritisnya Iwan Fals bisa dipahami, pasalnya diawal karirnya sebagai penyanyi, pria kelahiran Bandung ini pernah lontang-lantung di Jakarta. Tinggal bersama orang tuanya di bilangan Bukit Duri – Tebet, Jakarta, kemudian pernah mengamen di Pasar Minggu hingga Blok M, juga pernah menjadi supir angkot untuk rute Blok M – Pasar Minggu membuat dirinya tegar menghadapi hidup. Realitas peristiwa yang terjadi disekelilingnya telah menginspirasi Dia untuk membuat lagu

Penyanyi pop legendaries lainnya yang memberi warnai Jakarta adalah Chrisye, karena dihampir semua karyanya bercerita tentang kisah percintaan dan pergaulan anak muda-mudi di Jakarta. Dengarkan saja lagu Hura-hura (1983); Ayah Ibu Sibuk Semua/Cari Harta Siang dan Malam/Anak Dimanja dengan uang/Hingga Terlupakan Kasih Sayang..

Selain Chrisye ada Fariz Rustam Munaf , atau yang lebih dikenal Fariz RM. Pelantun tembang terkenal Bercelona dan Sakura ini pernah menghasilkan tembang Jerit Jakarta (1981); Kususuri Jakarta/ dibawah mendung gulita/langit malam, mencekam/mencoba menggugah raga, manusia.. Beberapa syairnya tidak banyak berbeda dengan Chrisye, yakni seputar percintaan dan kesedihan.

Dikancah musik rock, kita tentu mengenal God Bless yang pernah berjaya tahun 1970-an. Band yang melejitkan nama Ahmad Albar juga banyak melahirnya syair-syair kehidupan kota Jakarta. Coba simak lagu Balada Sejuta Wajah (1980); Denyut dijantungmu kota pusat gelisah dan tawa/Dalam selimut debu dan kabut yang hitam kelam warnanya/ Sejuta janjimu kota menggoda wajah yang resah/ Ada disini dan ada disana menunggu didalam tanya/ Menunggu didalam Tanya.. Tentang sikap rakus pejabat dan pengusaha yang menyusahkan rakyat juga diabadikan dalam tembang berjudul Raksasa (1989). Seribu raut wajah/Sejuta kata dusta/Senyum manis di bibirnya/Janji dan janji.. bohong/Kepentingan pribadi kau pikirkan/ Tipu sana dan sini, engkau lakukan…

Menjelang era 2000-an, syair lagu tentang Jakarta bisa dibilang hanya repetisi tahun sebelumnya saja. Slank misalnya, grupnya anak muda asal Jl Potlot – Duren Tiga Jakarta Selatan, Slank berhasil menghipnotis anak muda Jakarta dan seluruh Indonesia. Syairnya yang ringan dan dengan musik yang enak didengar (easy listening) patut diakui mempengaruhi gaya hidup anak muda awal tahun 1991. Band yang dipelopori empat personel kala itu ; Kaka (vocalis), Abdi (drum), Bongky (bas), Indra (keboard) dan Pay (Gitar) mampu menggerakan para fansnya yang kemudian disebut slankers di seluruh Indonesia dan beberapa Negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Trend dan gaya hidup anak muda Jakarta direkam dengan baik oleh Slank, contohnya ditembang Kamu Harus Pulang, Terlalu Manis, Ketinggalan Jaman, dan Aktor Intelektual. Atau untaian syair Slank tentang jalan bebas hambatan (TOL) di Jakarta yang ternyata banyak hambatannya alias macet, mereka abadikan lewat lagu BMW di album PISS (1993); Bangun pagi mau rekaman di Jackson /Naik bis dari Potlot ke Pluit/Dijalanan berantakan wawutwawutan / Udah sumpek... macet !!! /Aa...aa....udah bau...macet !! / sore hari capek abis rekaman /Naik taxi dari Pluit ke Potlot / Biar cepet terpaksa lewat jalan tol / Tetep aje... macet !!! / Aa...aa... udah mahal...macet!!! / Udah rugi...mak...!!!

Selain Slank, sejumlah grup musik papan atas saat ini seperti, Dewa 19, Sheila on Seven, Padi, Ada Band, Peter Pan, Raja dan lain sebagainya juga banyak terinspirasi lagunya dari fenomena yang terjadi di Jakarta. Di kota ini pula, peruntungan mereka berkarir dibidang musik bergerak maju hingga mencapai kesuksesan, baik secara materiil maupun non materiil.

Diusianya yang makin tua, Jakarta masih menampakkan wajah lamanya yang syarat dengan kemacetan, kesumpekan dan ketimpangan. Sekalipun demikian, Jakarta telah banyak melahirkan musisi berbakat dengan prestasinya patut dibanggakan
0

Hengky saputra
  • City: bekasi
  • Posts: 20
  • Uploads: 0
  • Scores: 335
hengky saputra

Tulis Komentar

.: 1 Komentar :.


WQ123
  • City: new york
  • Posts: 2
  • Uploads: 0
  • Scores: 0
Friday, 17 February 2017 07:17
<a href="http://grizzlies.nba-jersey.com/">memphis grizzlies jersey</a>, <a href="http://www.vans-shoes.net/">vans
outlet</a>, <a href="http://www.fendi-outlet.in.net/">fendi handbags</a>
0
0.021s
ShoutBox