RHOMA IRAMA ( SANG RAJA DANGDUT)

Berita Friday, 26/Dec/2014 20:20 0 Komentar - 18 hits
Raja Dangdut yang tak pernah turun tahta Rhoma Irama genap berusia 68 tahun.Dan tampaknya gelar Raja Dangdut itu tersemat seumur hidup.Karena hingga saat ini,tak satu pun sosok pemusik dangdut yang mampu mengungguli kharisma sang Raja Dangdut.Seperti lirik dari salah satu lagu yang pernah disenandungkannya :”Kau yang mulai kau yang mengakhiri”, Rhoma Irama memulai eksplorasi dangdut di akhir 60an dan mengembangkannya secara ekspresif,antara lain menyusupkan aura rock di awal 70an, dan setelah itu semua pemusik atau insan dangdut mengikuti jejaknya tanpa ada yang mampu menggesernya dalam satu titik evolusi sekali pun.
Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.

Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.
Dalam bermusik,Rhoma Irama memang menunjukkan sikap yang tegas dan lugas.Tertera jelas dalam deretan lirik-lirik lagu yang ditulisnya.
Banyak orang bermain musik
Bermacam-macam warna jenis musik.
Dari pop sampai yang klasik.
Bagi pemusik yang anti Melayu.
Boleh benci, jangan mengganggu.
Biarkan kami mendendangkan lagu.
Lagu kami lagu Melayu.
(“Musik” –Rhoma Irama ,1977).

Jelas ini merupakan sebuah refleksi eksistensi musik dangdut, jenis musik yang kerap dicemoohkan karena dianggap merefleksikan kalangan akar rumput yang jauh dari estetika dan harmonisasi lagu-lagu popular yang bermuara dari pengaruh westernisasi.
William Frederick seorang peneliti dari Amerika Serikat yang menelaah ikhwal musik dangdut yang dimainkan Rhoma Irama menguraikannya dalam tulisan bertajuk”Rhoma Irama and The Dangdut Style : Aspects of Contemporary Popular Culture” di tahun 1982.

Mengenai proses hibrida musik antara Barat dan Timur yang dilakukan Rhoma Irama dalam Dangdut pada era 70an terlihat dalam penggalan kalimat berikut ini :
By 1975 ,however,the outlines of a tighter synthesis and a patently individual personality could be seen in Oma’s music.It was above all an energetic style that pumped the Melayu songfull of a liquid ,flowing rhythm and highlighted its characteristic waves of melody .In part the effect was achieved with subtle changes in orchestration, but it came more noticeable with the incorporation of electrical instruments—guitar ,organ,even mandolin—and increasingly powerful acoustical equipment .This kind of music could be felt in an almost visceral way .If Melayu music was customarily foot-tapping stuff , then this dangdut (as it was now being called ) practically shook young listeners , compelling them to toss off their footgear and rock (bergoyang) to the music .Indeed ,dancing in this particular manner , across between the traditional kampung-style joget and vaguely rock and-roll motions ,became a hallmark of Soneta a performances .


Anasir-anasir seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi sebagai superstar yang berjubah arogansi dan segala perilaku rekayasa seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita yang menyadap habis perilaku superstar dibelahan barat sana tanpa memahami esensi yang sesungguhnya.
Rhoma Irama tak hanya menawarkan goyang dangdut atau joget belaka seperti pada lagu “Joget“ maupun ”Dangdut” :yang kemudian lebih popular dengan judul “Terajana” :
Sulingnya suling bambu
Gendangnya kulit lembu
Dangdut suara gendang
Rasa ingin berdendang

Rhoma Irama tak hanya membuai penggemarnya dengan lagu-lagu romansa yang nelangsa seperti “Kegagalan Cinta” atau kegenitan atmosfer insan yang tengah kepayang seperti dalam lagu “Tung Keripit” yang mengambil gaya pantun :
Tung keripit Hai si Tulang Bawang
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau hilang
Tapi juga menyebarkan pesan moral dalam sederet lagu-lagunya semisal “Begadang”,”Darah Muda” maupun “Rupiah” yang entah kenapa sempat dicekal TVRI pada jelang dasawarsa 70-an :
Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah
Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah
Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah
Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencar rupiah
Asal jangan halalkan cara

Lihat pula bagaimana Rhoma Irama menyuarakan anti segala bentuk perjudian :
Judi! menjanjikan kemenangan
Judi menjanjikan kekayaan
Bohong! Bila engkau menang,
Itu awal dari kekalahan
Bohong! bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.

Dari departemen lirik yang dijejalkan Rhoma Irama pun mengubah kecenderungan pemaparan tema.Rhoma Irama berubah menjadi bijak dengan pelbagai petuah beratmosfer moralitas.Hal ini diungkap pula oleh peneliti asal Amerika Serikat William H Frederick dalam tesis bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” tersebut
“. Since much of Oma’s songwriting was leading inescapably^toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something more “serious.”
Dan akkhirnya kita pun mahfum bahwa Rhoma Irama menjadi sosok panutan ummat.Menjadi suri tauladan.
Rhoma Irama bagaikan trubadur,pemusik pengelana yang bertutur lewat dendang lagu tentang apa saja.
Puncak pencapaian Rhoma Irama dalam berkarya adalah ketika dia memproklamirkan “Sound Of Moslem” pada tahun 1973 .Lirikk lirik yang ditulis Rhoma Irama mulai terasa menyelinap ke wilayah religi.
Ini salah satu keprihatinan Rhoma terhadap nilai keimanan muslim di abad modern yang tertuang dalam lirik lagu bertajuk “Koran dan Qur’an” :
Kalau bicara tentang dunia ,aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama,mereka jadi alergi
Membaca Koran jadi kebutuhan
Sedang Al Qur’an Cuma perhiasan.
Rhoma Irama pada akhirnya mengingatkan kita akan sosok Sunan Kalijaga yang menggunakan anasir seni untuk tujuan dakwah Islam.
Perkembangan Rhoma Irama terasa signifikan dalam konsep bertutur,dimana pada akhirnya kita pun memaklumi jika sesungguhnya Rhoma Ira memang telah melakukand akwah lewat media musik :
Segelintir orang yang haus akan kekuasaan
Membuah dunia penuh penderitaan
Hentikanlah penindásán, hentikan kezaliman
Kapan kiranya akan tegak keadilan
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Terdengar suara keluhan manusia yang gelisah
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Banyak manusia jádi mangsa dari sesamanya
Itu karena sang manusia sudah lupa kepada Penciptanya
Agama hanya pelengkap belaka
Manusia telah bertuhan dunia

Dan hari ini,pencapaian-pencapaian Rhoma Irama dalam dunia seni terutama musik masih bisa kita leretkan dalam persolan kreativitas yang menginspirasi siapa saja, termasuk juga bagi orang yang tak menyukai jenis musik yang dimainkan Rhoma Irama.
0

dahrie
  • City: samarinda
  • Posts: 94
  • Uploads: 8
  • Scores: 1734
I am an employee of the hobby with all the colors of music

Tulis Komentar

.: Belum ada komentar :.

0.003s
ShoutBox