Musisi Otodidak VS Musisi Akademis

Musik Saturday, 28/Nov/2009 00:47 17 Komentar - 1769 hits
Diperbarui pada Wednesday, 23/Nov/2011 10:07
Di negeri ini sebagian besar musisi yang sukses dalam industri musik adalah seorang otodidak. Sementara musisi akademis sangat jarang terlihat. Betulkah persoalan otodidak vs akademis adalah persoalan hitam vs putih? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi persoalan itu akan dibahas lain kali. Tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengaku otodidak sebenarnya juga menggunakan ilmu-ilmu akademis meskipun tanpa disadarinya.

Persoalan otodidak-akademis adalah persoalan duluan mana antara ayam-telur. Maka mari singkirkan dahulu perdebatan tentang "ayam-telur" tersebut. Yang lebih penting kali ini adalah bagaimana menjadi seorang otodidak yang sukses? (tentu saja kata sukses disini bukan berarti sukses secara materi tetapi sukses mendapat ilmu tarian jawa).

Syarat utama untuk seorang otodidak adalah kemauan keras. Karena untuk mendapatkan sebuah ilmu seseorang otodidak harus "mencari sendiri". Berbeda dengan kondisi dalam sebuah lembaga pendidikan. Apa saja yang harus dipelajari hingga tahapan materi yang mesti dipelajari telah disusun secara sistematis (meskipun banyak juga lembaga pendidikan musik yang sama sekali tidak memiliki sistem pengajaran. Ini parah sekali, lihat disini juga jual sprei ). Tetapi sesungguhnya materi yang akan dipelajari oleh otodidak maupun akademis adalah sama. Maka kuncinya adalah pahami dahulu "petanya" agar tidak tersesat. Jika belajar dengan buku, bedakanlah antara buku yang memberi ilmu secara "instan" dengan buku yang membahas suatu masalah dari pokok persoalannya. Hal ini hampir sama dengan ungkapan: berilah kail jangan cuma ikan. Dengan pengetahuan yang mengakar membuat banyak persoalan menjadi jauh lebih mudah dipecahkan. Berbeda dengan pengetahuan yang bersifat instan yang hanya memberi satu jawaban untuk satu persoalan.

Lembaga pendidikan seperti dj school bagi yang belajar musik di lembaga pendidikan, tempat kursus, ataupun private di rumah, tentu bebannya jauh lebih sedikit. Karena materi telah dipersiapkan. Sehingga siswa tinggal berkonsentrasi menerima pelajaran yang diberikan. Tetapi perlu diwaspadai, karena tidak semua lembaga pendidikan musik memiliki sdm dan sistem yang kredibel. Kesuksesan sebuah proses belajar mengajar tergantung dari tiga faktor: pendidik, anak didik, dan sistem pengajarannya.
Jadi belajar di manapun, asalkan ketiga faktornya mendukung, tentu hasilnya akan memuaskan. Persoalannya kemudian adalah, bagai mana cara mengetahui (terutama) seorang pendidik musik dan sistem pengajarannya cukup bagus? Seorang pemain yang bagus belum tentu dapat menjadi pendidik yang bagus. Sebelum memutuskan untuk belajar pada lembaga pendidikan tertentu atau seseorang yang dapat mengajar musik, lebih baik tanyakan dahulu tentang silabus pengajarannya.
0

Ronding
  • City: BONTANG
  • Posts: 1321
  • Uploads: 156
  • Scores: 3505
BERSYUKURLAH LEBIH BANYAK
MENGELUHLAH LEBIH SEDIKIT DAN
SALING MEMBERI LEBIH SEMANGAT.

Tulis Komentar

.: 17 Komentar :.


calistamusik
  • City: Palembang
  • Posts: 61
  • Uploads: 0
  • Scores: 509
Thursday, 11 August 2011 11:19
Saya Setuju
Lam kenal..
Guru Calista Musik Palembang
Ricky SE
Salam Kenal

Ricky SE
Calista Music

Jazz Music School

www.calistamusik.com
Pin BB 2B47AB22
0

lampos hutabarat
  • City: Sibolga
  • Posts: 2
  • Uploads: 0
  • Scores: 0
Thursday, 07 July 2011 11:23
aq sih berada diposisi otodidak dan akademis
Kalo pendapat aq sih musisi otodidak vs musisi akademis ibaraT DUKUN dan DOKTER,22 nya sama2 bisa bermain dan
menghibur(mengobati istilah utk dukun dan dokter) tapi otodidak tidak bisa membuktikan musik itu tetapi akademis bisa
menganalisis,mendiagnosa dan membuktikannya secara ilmiah yang biasanya dituang dalam bentuk Fullscore sedangkam yg
otodidak tidak bisa.
namun intinya sama2 mempunyai kekuatan dan kelemahan
0

arie kid29
  • City: bengkulu
  • Posts: 3
  • Uploads: 0
  • Scores: 0
Thursday, 26 May 2011 18:42
masing2 musisi otodidak n akademis mempunyai kelemahan yang berbeda.musisi otodidak,memang banyak yang bilang mainnya
pakai felling,akan tetapi tidak semua musisi otodidak yang dapat mengembangkan fell nya itu,nah malah ada yang hanya
bisa itu2 aja,n kelemahan keduanya,dalam bermain musisi otodidak memang bnyak yg jago improvisasi tetapi dalam
penampilan bermain biasanya musisi otodidak terlihat kurang rapi(penjarian dalam pianon gitar).kalo musisi akademis
memang bnyak yang bilang mereka itu monoton,mati otak kanan,g' kreatif,tapi yakinlah bagi mereka yang ngomong begitu
pasti tuh g' pernah ngerasain yang namanya akademis musik(kursus musik maksudnya),jadi mereka hanya bicara menurut
pendapat orang aja,musisi akademis lebih bnyak memahami akan teknik dasar musik sampai imrovisasi,dalam
penampilan(penjarian)mereka sangat bagus,karena dalam tahap belajar mereka ditekankan agar benar dalam posisi
fingering,nah kelemahan mereka disini adalah dalam menguasai teknik bermusik mereka membutuhkan waktu yang lama n
ditambah dengan biaya yang cukup besar.
0

Bimo Lukar
  • City: Banjarnegara
  • Posts: 2
  • Uploads: 0
  • Scores: 0
Friday, 10 December 2010 16:15
Bagus sekali gagasan yang Anda tuangkan ... Salut....
0

must-own-now
  • City: Jakarta
  • Posts: 6
  • Uploads: 0
  • Scores: 5972
Sunday, 03 October 2010 02:07
Saya setuju sekali dengan pernyataan bahwa "Kesuksesan sebuah proses belajar mengajar tergantung dari tiga faktor:
pendidik, anak didik, dan sistem pengajarannya", dan menurut saya hal ini perlu ditambah dengan faktor lingkungan
(pergaulan) juga, dan hal ini berlaku tidak hanya di Indonesia saja, bahkan berlaku untuk mereka yang belajar di luar
negeri.

Saya newbie disini, dan mungkin baru banget nyemplung di dunia pencet kibor, tapi saya udah banyak bergaul dengan mereka
yang mengajar dan belajar kibor. Makanya saya mau men-sharing beberapa hal.

1. Pendidik: Benar sekali, bahwa kualitas pendidik adalah salah satu faktor penting disini. Bahkan pendidik yang baik
pun, harus bisa mengadaptasikan faktor no.3 (sistem pendidikan) untuk tiap peserta didiknya bila mana perlu. Saya juga
tau, ada sebuah sekolah musik yang franchisenya ada dimana-mana, tapi tidak memiliki kurikulum yang cukup "ajeg"
(establish), bahkan belakang saya menemukan tenaga pendidiknya aja masih terlalu mentah dari skill permainannya.
Apakah yang baik itu harus lulusan S1 atau lulusan luar negeri? Jawabannya: Blom tentu juga. Karena saya dulu menemukan
ada sebuah tempat kursus di Jakarta yang merekrut tenaga pengajar dari luar negeri, tapi ternyata begitu harus maen,
malah masih bagusan muridnya. Lalu gimana kalo S1 dalam negeri? Saya juga pernah tau ada tenaga pengajar (untungnya)
gitar lulusan S1 musik sebuah PTN, tapi mungkin saking "kepinteran" (atau ke"edan"an?) dia maen sikat part solo
instrumen lain, bahkan denger-denger dia pernah bikin statement bahwa "fales adalah artistik", menurut lo?
Masalah ada beberapa tempat kursus yang menghadirkan artis / atau musisi pendukung artis, menurut saya sah-sah aja.
Karena sekarang banyak juga kok musisi yang emang memiliki background pendidikan musik yang layak dan kebetulan memiliki
kemampuan pedagogi (mengajar) yang memadai. Ga perlu lah saya sebut satu-satu nama musisi atau sekolahan yang memakai
tenaga mereka, teman-teman bisa cari tau sendiri kok...

2. Anak didik. Hmm... saya kurang setuju dengan istilah "anak" disini, karena yang belajar musik disini blom tentu
anak-anak, malah kadang udah jago bikin anak... :D
Saya akan gunakan istilah "peserta didik". Peserta didik, entah itu kursus, kuliah musik atau hanya sekedar ikut clinic
lepasan, jika ingin mendapat hasil yang maksimal tentulah harus proaktif, artinya, peribahasa "malu bertanya, sesat
dijalan" berlaku disini. Tentu saja selain bertanya, harus di imbangi praktek/latihan. Jangan kebanyakan nanya juga sih,
ntar gurunya curiga, nih anak didik gwe bego banget kali yaa... :p . Peserta didik juga sebaiknya harus aktif bergaul
dengan sesama peserta didik yang lain, entah itu yang sesama belajar keyboard ataupun dengan instrumen lain. Lho?
Instrumen lain? Emang ngaruh? Iya dong! Misal, contoh kasus, dia mau bikin "style" atau "MIDI sequence", kalo ga pernah
tau jangkauan nada instrumen lain, atau mungkin teknik main, misal slap bass atau guitar strumming, atau mungkin fill-in
drum yang wajar, pasti hasil akhirnya juga jauh dari kata realistis, percuma dong beli kibor mahal-mahal kalo kita
make-nya asal-asalan... :p
Saya pernah bertemu seorang peserta didik disebuah sekolah musik di Jakarta. Dia rantau dari Surabaya, dengan
pengetahuan di dunia kibor cukup minim (hanya tau C major, F major, A minor) dan baca not yang berantakan. Tapi dia
mengakui bahwa dalam 1 tahun dia belajar di tempat itu, dia merasakan peningkatan yang cukup signifikan. Menurut dia,
belajar dimanapun, kita harus bisa mengolah ilmu yang didapat, bertanya dan bergaul pada orang yang tepat. (ini
membuktikan faktor no.4 "lingkungan" adalah faktor yang vital)

3. Sistem pengajaran. Entah ini maksudnya kurikulum atau pedagogi nya, yang pasti saya punya pendapat mengenai keduanya.
Kurikulum, seperti yang udah saya ceritain di point no.1, akhirnya setelah saya mengamati beberapa sekolah musik yang
cukup ngetop, saya menarik kesimpulan bahwa pada akhirnya semua kembali ke alasan bisnis. Sekolah musik yang saya
ceritakan diatas, saya pernah bertanya pada salah seorang pemilik franchise-nya, ngapain anak kalo udah bisa beres buku
1 dalam 1 bulan harus dipertahankan dengan cara mengulur-ngulur materi yang sebenernya pasti anak itu udah bosen?
Jawabannya? Udah gapapa, dia khan jadinya lama kursus ditempat kita, yang mana itu baik buat income perusahaan... :(
Ada lagi sebuah sekolah musik yang ngetop dari jaman dulu, terutama untuk belajar organ dan piano klasiknya. Di sekolah
ini kurikulum udah distandarisasi dari negara asalnya (yah ketauan deh!) Cuma apesnya, untuk yang mereka belajar organ
disana, setiap pergantian buku (terutama pada level/grade kursus menengah keatas), murid harus menyesuaikan tipe organ
nya, karena dibuku itu ada disket/card yang berisi registrasi untuk tiap-tiap materi lagu di bukunya. Harga organ nya?
Ya lumayan deh, yang seri top of the line nya aja dulu, hampir sama dengan beli city car bekas... :((

4. Lingkungan. Selain lingkungan belajar yang bersih (emang situ mau belajar kibor ditemenin lalat berseliweran?),
lingkungan pergaulan juga mempengaruhi proses pembelajaran, dan ini udah terbukti di point no.2.
Saya pernah kenal ada seseorang teman yang belajar keyboard di sebuah institut yang terkenal di Amerika. Buat saya, kalo
saya punya kesempatan dan rejeki seperti dia, saya pengennya sih belajar se maksimal kemampuan saya. Sayangnya teman
yang satu ini ngga kayak gitu. Pulang kuliah, balik ke apartemen, dia lebih baik bakar cimeng atau ber shabu ria,
ketimbang cari temen untuk jam session, atau berbuat sesuatu yang lebih baik (jadi tukang cuci piring di restoran fast
food, lumayan duitnya). Nah, ini salah satu contoh lingkungan yang buruk, dan ini berlaku juga disini. Sama halnya
dengan kita kursus/kuliah musik, tapi lebih senang untuk nongkrong-nongkrong di mall ketimbang cari job di cafe/studio
rekaman...

Itu beberapa pendapat saya. Mohon maaf bila ada yang tersinggung. Bukan maksud saya untuk menggurui. Saya juga masih
belajar dan masih jauh dari kata "jago" apalagi "master". Satu hal yang terpenting disini adalah NIAT! Yang ngajar ya
niat ngajar, yang belajar ya niat belajar, yang punya tempat kursus/kampus ya niat juga dong untuk menyusun kurikulum,
mempersiapkan fasilitas, dan lain-lain.

Thanx.
Heh kamu... Iya, kamu @#$%+ , jangan sotoy yaa... :p
0

munir
  • City: abepura
  • Posts: 73
  • Uploads: 5
  • Scores: 1810
Friday, 14 May 2010 07:09
wah cara penyampaian materinya kayak dosen, mantap.menurut saya antara musisi akademis dan otodidak sama saja tapi ada
sedikit nilai lebih bagi musisi otodidak, kenapa saya ketakan lebih karena seorang musisi otodidak tidak harus tunggu
bola melainkan kejar bola,aduch kok malah bicara bola,maksud saya seorang musisi otodidak nggak harus tunggu disuruh
dulu baru mengerjakan, dan jalan yang ditempuh sesorang ototdidak kebanyakan secara alternative karena kecepatan dia
menyerap materi yang dia dapat dari lingkungan, tapi kelemahannya ketika dia dihadapkan pada partitur mungkin akan
sedikit kesulitan, tapi saya rasa sekarang banyak musisi otodidak yang bisa melakukan itu.dan kalau saya simpulkan entah
itu musisi otodidak atau akademis yang terpenting adalah jiwa dari kedua musisi itu adalah seni.matur nuwun
0

Amri MF
  • City: Banyumas
  • Posts: 46
  • Uploads: 0
  • Scores: 6
Monday, 10 May 2010 08:58
mungkin musisi akademis otak kanannya mati, nunggu perintah dulu baru bekerja, gak bisa berkreasi seperti musisi
otodidak
0

marsal
  • City: haurgeulis
  • Posts: 58
  • Uploads: 1
  • Scores: 2986
Wednesday, 28 April 2010 12:03
buat saya otodidak maupun akademis bukan hal yg penting.semua berawal dari memiliki bakat seni(mau otodidak atau
akademis,tanpa bakat apa bisa?).tinggal siapa yang mau terus mengasahnya,itulah yang hebat.
0

anggra_music
  • City: MAGELANG
  • Posts: 13
  • Uploads: 0
  • Scores: 1
Friday, 05 March 2010 03:58
menurutku para musisi otodidak lebih jago karena dengan memainkan musik pake feeling..akan menghasilkan musik yang lebih
punya jiwa...ruh musik akan keluar..akan tetapi para musisi otodidak dituntut lebih rajin mempelajari apa yang belum
dikuasai..seperti bgmn baca not balok...bgmn mengaransir sebuah lagu..asal tetep rajin belajar dan terus eksplore
insyaAllah akan menjadi musisi sukses dg otodidak..tanpa mengesampingkan akademis...aku lihat akademis juga
penting..sama dengan otodidak.. akademis pun harus belajar gmn "menjelma"kan ruh dari sebuah lagu agar lagu yang
dimainkan ada "nyawa"nya...kesimpulannya baik otodidak maupun akademis masih tetep harus saling melengkapi diri dgn ilmu
yang bisa bikin musik jadi lebih bagus lagi ketika dimainkan..heheheee buat Bu ronding...salut untuk artikelya !! kapan2
lanjut bahas lebih jauh yaaa ??Bravo...
0

freddy bakas
  • City: TUGUMULYO
  • Posts: 572
  • Uploads: 62
  • Scores: 1108
Saturday, 30 January 2010 05:53
waah--wah-wah...sepertinya harus bnyk belajar dari bu ronding nih..kaya lagi dibangku kuliah pas bacanya...hehehe..sip
deh..:)
TECHNIS KN1400, korg Pa 50
0
0.396s
ShoutBox